Kalah perang, seorang pangeran diberi kesempatan setahun oleh musuhnya untuk mencari jawaban atas pertanyaan :
Apa yang diinginkan perempuan ?
Kalau dalam setahun tidak dapat menjawab pertanyaan tersebut, sang pangeran akan digantung. Bertanya kesana-kemari, tak ada satupun jawaban yang memuaskan. Akhirnya ketika satu tahun hampir lewat, seseorang memberinya saran untuk bertanya kepada seorang nenek sihir.
Ketika pangeran menemukan si nenek sihir dan menanyakan pertanyaan tersebut, si nenek sihir mengatakan bahwa ia hanya akan menjawab jika sahabat sang pangeran yang bernama Nobita mau mengawininya. Pangeran tentu saja tidak tega untuk menikahkan sahabatnya dengan nenek sihir yang selain jelek juga bau.
Akan tetapi Nobita yang merasa banyak berhutang budi dan ingin menunjukkan baktinya, mengatakan bahwa ia sanggup mengawini nenek sihir tersebut.
Jawaban nenek sihir: Apa yang benar-benar diinginkan perempuan adalah diberi kebebasan mengatur hidupnya sendiri.
Jawaban tersebut diterima dan pangeran terbebas dari tiang gantungan. Sementara itu Nobita dengan berdebar-debar agak takut memasuki kamar pengantinnya. Ia sangat terperanjat ketika di atas ranjang terbaring seorang perempuan yang cantik jelita dan seksi.
"Kamu siapa....?" tanya Nobita tak mengerti.
"Karena kamu sangat baik terhadapku, setengah hari aku akan menjadi nenek sihir dan setengah harinya lagi aku akan menjelma menjadi putri yang paling cantik. Sekarang, terserah kamu, mau pilih mana, apakah siang sebagai nenek sihir dan malam jadi putri atau sebaliknya," kata perempuan tersebut.
Nobita pun bingung. Di satu sisi, ia ingin menunjukkan kepada semua orang betapa cantiknya istrinya, tapi ia juga takut nanti ada yang ingin merebutnya. Kalau istrinya menjelma jadi putri cantik di malam hari, hanya ia yang akan 'menikmatinya'.
Akhirnya Nobita menyerahkan keputusan tersebut kepada sang putri. "Kalau begitu aku akan menjelma jadi putri cantik sepanjang waktu, karena kamu telah memberiku apa yang diinginkan perempuan, yaitu kebebasan untuk mengatur hidupku sendiri," kata sang putri.
Moral cerita : Cantik ataupun jelek, perempuan pada dasarnya tetap saja penyihir
:-)(no offense)
Regards
Wednesday, September 28, 2005
Tuesday, September 27, 2005
Why Women Love Men
They've got that comfortable place on their shoulder
that's perfect for snuggling into while we fall asleep.
They're at peace with their bodies, except for maybe
some minor anxiety over height, weight, and baldness.
They're enthusiastic about our bodies, even when
we're not.
They fall in love so hard, once they finally fall.
Chest hair, forearm hair and the feel of a newly
shaved cheek.
Bravery around snakes, waterbugs, bats and
flat tires.
Their unapologetic lust for a nice hunk of beef
or chocolate cake.
Their ability to solve problems simply by throwing
a ball around.
The glimpse you get, when they wear their baseball
cap backward of their inner Little Leaguer.
How tender they get when they cry, and how seldom
they do it.
What they lack in talk, they tend to make up for
in action.
They make excellent companions when driving through
rough neighborhoods or walking past dark alleys.
They really love their moms. They remind us of our dads.
They don't mind accompanying a woman to a party even
though she looks like a movie star and they look like
the chauffeur.
Their near-endless appetite for discussing the ins and
outs of work and money - ours as well as theirs.
Their genuine ardor for tinkering with toilets, changing
oil and assembling gas grills - jobs any intelligent
woman can do but would be nuts to volunteer for.
They never care what their horoscope, their mother-
in-law, nor the neighbors say.
They rarely lie about their age, their weight, or their
clothing size.
How awestruck they are in the face of a homemade
cookie.
How great their hands look holding ours.
Their face is a treasure to behold when they give us
a present they picked out.
Their ignorance is usually amusing.
They have a great sense of competition.
They give great hugs, ( and always melt our hearts
when a sweet "I love you Princess" is added)
Though they often try to hide it, they're very
tenderhearted and caring.
They have an uncanny ability to look deeply into
our eyes and connect with our heart, even when
we don't want them to.
They don't care whether colors match, but are willing to be
concerned if we want them to be.
They can be taught.
They give us a peek at the little boy inside when they get sick
or happy or hurt.
that's perfect for snuggling into while we fall asleep.
They're at peace with their bodies, except for maybe
some minor anxiety over height, weight, and baldness.
They're enthusiastic about our bodies, even when
we're not.
They fall in love so hard, once they finally fall.
Chest hair, forearm hair and the feel of a newly
shaved cheek.
Bravery around snakes, waterbugs, bats and
flat tires.
Their unapologetic lust for a nice hunk of beef
or chocolate cake.
Their ability to solve problems simply by throwing
a ball around.
The glimpse you get, when they wear their baseball
cap backward of their inner Little Leaguer.
How tender they get when they cry, and how seldom
they do it.
What they lack in talk, they tend to make up for
in action.
They make excellent companions when driving through
rough neighborhoods or walking past dark alleys.
They really love their moms. They remind us of our dads.
They don't mind accompanying a woman to a party even
though she looks like a movie star and they look like
the chauffeur.
Their near-endless appetite for discussing the ins and
outs of work and money - ours as well as theirs.
Their genuine ardor for tinkering with toilets, changing
oil and assembling gas grills - jobs any intelligent
woman can do but would be nuts to volunteer for.
They never care what their horoscope, their mother-
in-law, nor the neighbors say.
They rarely lie about their age, their weight, or their
clothing size.
How awestruck they are in the face of a homemade
cookie.
How great their hands look holding ours.
Their face is a treasure to behold when they give us
a present they picked out.
Their ignorance is usually amusing.
They have a great sense of competition.
They give great hugs, ( and always melt our hearts
when a sweet "I love you Princess" is added)
Though they often try to hide it, they're very
tenderhearted and caring.
They have an uncanny ability to look deeply into
our eyes and connect with our heart, even when
we don't want them to.
They don't care whether colors match, but are willing to be
concerned if we want them to be.
They can be taught.
They give us a peek at the little boy inside when they get sick
or happy or hurt.
Hemph
Akhirnya, terbebas juga gua dari OSPEK Jurusan. AKhirnya terbebas juga dari pake kemeja pas kuliah. Akhirnya bisa juga kuliah pake kaos oblong and sandal... =)... Tapi bentar lage UTS, yah untungnya masih gampang - gampang pelajaran semester 1.... hemph........... Buat temen - temen deket gua yang mau UTS juga, Gud Luck ya, jangan lupa : belajar yang rajin and berserah ama GOD sepenuhnya..... =)
Monday, September 26, 2005
Masih Ada Hari Esok
Pada suatu tempat, hiduplah seorang anak. Dia hidup dalam keluarga yang
bahagia, dengan orang tua dan sanak keluarganya. Tetapi, dia tidak pernah
mensyukuri betapa baiknya kehidupan yang dia miliki. Dia terus bermain,
menggangu sanak keluarganya kalau mereka tidak mau bermain apa yang dia
ingin main. Tetapi, ketika dia mau minta maaf, dia selalu berkata, "Tidak
apa-apa, besok kan bisa."
Ketika agak besar, sekolah sangat menyenangkan baginya. Dia belajar,
mendapat teman, dan sangat bahagia. Tetapi, dia nggak pernah
mensyukurinya. Semua begitu saja dijalaninya sehingga dia anggap semua
sudah sewajarnya. Suatu hari, dia berkelahari dengan teman baiknya.
Walaupun dia tahu itu salah, tapi tidak tidak pernah mengambil inisiatif
untuk minta maaf dan berbaikan dengan teman baiknya. Alasan dia, "Tidak
apa-apa, besok kan bisa."
Ketika dia agak besar, teman baiknya tadi bukanlah temannya lagi. Walaupun
dia masih sering melihat temannya itu, tapi mereka tidak pernah saling
tegur. Tapi itu bukanlah masalah, karena dia masih punya banyak teman baik
yang lain. Dia dan teman-temannya hampir melakukan segala sesuatu
bersama-sama, makan, main, kerjakan PR, dan jalan-jalan. Ya, mereka semua
teman-temannya yang paling baik.
Setelah lulus, kerja membuatnya sibuk. Dia ketemu seorang cewek yang
sangat cantik dan baik dan segera dia menjadi pacarnya. Dia begitu sibuk
dengan kerjanya, karena dia ingin dipromosikan ke posisi paling tinggi
dalam waktu yang sesingkat mungkin.
Tentu, dia rindu sama teman-temannya. Tapi dia tidak pernah lagi
menghubungi mereka lagi, bahkan lewat telepon. Dia selalu berkata, "Ah,
aku capek, besok saja aku hubungin mereka." Ini tidak terlalu mengganggu
dia karena dia punya teman-teman sekerja selalu mau diajak keluar. Jadi,
waktu pun berlalu, dia lupa sama sekali untuk menelepon teman-temannya.
Setelah dia menikah dan punya anak, dia bekerja lebih keras agar dalam
membahagiakan keluarganya. Dia tidak pernah lagi membeli bunga untuk
istrinya, atau pun mengingat hari ulang tahun istrinya dan juga hari
pernikahan mereka. Tapi, itu tidak masalah baginya, karena istrinya selalu
mengerti dia, dan tidak pernah menyalahkannya. Tentu, kadang-kadang dia
merasa bersalah dan sangat ingin punya kesempatan untuk mengatakan pada
istrinya "Aku cinta kamu", tapi dia tidak pernah melakukannya. Alasan dia
"Tidak apa-apa, saya pasti besok akan mengatakannya." Dia tidak pernah
sempat datang ke pesta ulang tahun anak-anaknya, tapi dia tidak tahu ini
akan berpengaruh pada anak-anaknya. Anak-anak mulai menjauhinya, dan tidak
pernah benar-benar menghabiskan waktu mereka dengan ayahnya.
Suatu hari, kemalangan datang ketika istrinya tewas dalam kecelakaan. Dia
ditabrak lari. Tapi hari itu, dia sedang ada rapat. Dia tidak sadar bahwa
itu kecelakaan yang fatal, dia baru datang saat istrinya akan dijemput
maut.. Sebelum sempat berkata "Aku cinta kamu", istrinya meninggal.
Laki-laki itu remuk hatinya dan mencoba mencari menghibur diri melalui
anak-anaknya setelah kematian istrinya. Tapi, dia baru sadar anak-anaknya
tida
k pernah mau berkomunikasi dengannya. Segera, anak-anaknya dewasa dan
membangun keluarganya masing-masing. Tidak ada yang peduli sama orang tua
ini yang di masa lalunya tidak pernah meluangkan waktunya untuk mereka.
Dia pindah ke rumah jompo yang terbaik, yang menyediakan pelayanan sangat
baik dengan uang yang dia simpan untuk perayaan pernikahan ke 50, 60, dan
70 dia dan istrinya. Semua uang itu sebenarnya untuk dipakai pergi ke
Hawaii, New Zealand, dan negara-negara lain, tapi kini dipakai untuk
membayar biaya tinggal dia di rumah jompo tersebut.
Sejak itu sampai dia meninggal, hanya ada orang-orang tua dan suster yang
merawatnya. Dia kini merasa sangat kesepian, perasaan yang tidak pernah
dia rasakan sebelumnya. Saat dia mau meninggal, dia memanggil seorang
suster dan berkata padanya, "Ah, andai saja aku menyadari ini dari
dulu...." Dan dia meninggal dengan airmata di pipinya.
Apa yang saya ingin coba katakan pada kamu, waktu itu nggak pernah
berhenti.. Kamu terus maju dan maju, sebelum kamu sadar itu, kamu telah
maju terlalu jauh. Jika kamu pernah bertengkar, segera berbaikanlah!
Jika kamu merasa ingin mendengar suara teman kamu, jangan ragu-ragu untuk
meneleponnya segera.
Terakhir, tapi ini yang paling penting, jika kamu merasa kamu ingin bilang
sama seseorang bahwa kamu sayang dia, jangan tunggu sampai terlambat. Jika
kamu terus pikir bahwa kamu lain hari baru akan memberitahu dia, hari ini
tidak pernah akan datang. Jika kamu selalu pikir bahwa besok akan datang,
maka "besok" akan pergi begitu cepatnya hingga kamu baru sadar waktu telah
meninggalkanmu.
bahagia, dengan orang tua dan sanak keluarganya. Tetapi, dia tidak pernah
mensyukuri betapa baiknya kehidupan yang dia miliki. Dia terus bermain,
menggangu sanak keluarganya kalau mereka tidak mau bermain apa yang dia
ingin main. Tetapi, ketika dia mau minta maaf, dia selalu berkata, "Tidak
apa-apa, besok kan bisa."
Ketika agak besar, sekolah sangat menyenangkan baginya. Dia belajar,
mendapat teman, dan sangat bahagia. Tetapi, dia nggak pernah
mensyukurinya. Semua begitu saja dijalaninya sehingga dia anggap semua
sudah sewajarnya. Suatu hari, dia berkelahari dengan teman baiknya.
Walaupun dia tahu itu salah, tapi tidak tidak pernah mengambil inisiatif
untuk minta maaf dan berbaikan dengan teman baiknya. Alasan dia, "Tidak
apa-apa, besok kan bisa."
Ketika dia agak besar, teman baiknya tadi bukanlah temannya lagi. Walaupun
dia masih sering melihat temannya itu, tapi mereka tidak pernah saling
tegur. Tapi itu bukanlah masalah, karena dia masih punya banyak teman baik
yang lain. Dia dan teman-temannya hampir melakukan segala sesuatu
bersama-sama, makan, main, kerjakan PR, dan jalan-jalan. Ya, mereka semua
teman-temannya yang paling baik.
Setelah lulus, kerja membuatnya sibuk. Dia ketemu seorang cewek yang
sangat cantik dan baik dan segera dia menjadi pacarnya. Dia begitu sibuk
dengan kerjanya, karena dia ingin dipromosikan ke posisi paling tinggi
dalam waktu yang sesingkat mungkin.
Tentu, dia rindu sama teman-temannya. Tapi dia tidak pernah lagi
menghubungi mereka lagi, bahkan lewat telepon. Dia selalu berkata, "Ah,
aku capek, besok saja aku hubungin mereka." Ini tidak terlalu mengganggu
dia karena dia punya teman-teman sekerja selalu mau diajak keluar. Jadi,
waktu pun berlalu, dia lupa sama sekali untuk menelepon teman-temannya.
Setelah dia menikah dan punya anak, dia bekerja lebih keras agar dalam
membahagiakan keluarganya. Dia tidak pernah lagi membeli bunga untuk
istrinya, atau pun mengingat hari ulang tahun istrinya dan juga hari
pernikahan mereka. Tapi, itu tidak masalah baginya, karena istrinya selalu
mengerti dia, dan tidak pernah menyalahkannya. Tentu, kadang-kadang dia
merasa bersalah dan sangat ingin punya kesempatan untuk mengatakan pada
istrinya "Aku cinta kamu", tapi dia tidak pernah melakukannya. Alasan dia
"Tidak apa-apa, saya pasti besok akan mengatakannya." Dia tidak pernah
sempat datang ke pesta ulang tahun anak-anaknya, tapi dia tidak tahu ini
akan berpengaruh pada anak-anaknya. Anak-anak mulai menjauhinya, dan tidak
pernah benar-benar menghabiskan waktu mereka dengan ayahnya.
Suatu hari, kemalangan datang ketika istrinya tewas dalam kecelakaan. Dia
ditabrak lari. Tapi hari itu, dia sedang ada rapat. Dia tidak sadar bahwa
itu kecelakaan yang fatal, dia baru datang saat istrinya akan dijemput
maut.. Sebelum sempat berkata "Aku cinta kamu", istrinya meninggal.
Laki-laki itu remuk hatinya dan mencoba mencari menghibur diri melalui
anak-anaknya setelah kematian istrinya. Tapi, dia baru sadar anak-anaknya
tida
k pernah mau berkomunikasi dengannya. Segera, anak-anaknya dewasa dan
membangun keluarganya masing-masing. Tidak ada yang peduli sama orang tua
ini yang di masa lalunya tidak pernah meluangkan waktunya untuk mereka.
Dia pindah ke rumah jompo yang terbaik, yang menyediakan pelayanan sangat
baik dengan uang yang dia simpan untuk perayaan pernikahan ke 50, 60, dan
70 dia dan istrinya. Semua uang itu sebenarnya untuk dipakai pergi ke
Hawaii, New Zealand, dan negara-negara lain, tapi kini dipakai untuk
membayar biaya tinggal dia di rumah jompo tersebut.
Sejak itu sampai dia meninggal, hanya ada orang-orang tua dan suster yang
merawatnya. Dia kini merasa sangat kesepian, perasaan yang tidak pernah
dia rasakan sebelumnya. Saat dia mau meninggal, dia memanggil seorang
suster dan berkata padanya, "Ah, andai saja aku menyadari ini dari
dulu...." Dan dia meninggal dengan airmata di pipinya.
Apa yang saya ingin coba katakan pada kamu, waktu itu nggak pernah
berhenti.. Kamu terus maju dan maju, sebelum kamu sadar itu, kamu telah
maju terlalu jauh. Jika kamu pernah bertengkar, segera berbaikanlah!
Jika kamu merasa ingin mendengar suara teman kamu, jangan ragu-ragu untuk
meneleponnya segera.
Terakhir, tapi ini yang paling penting, jika kamu merasa kamu ingin bilang
sama seseorang bahwa kamu sayang dia, jangan tunggu sampai terlambat. Jika
kamu terus pikir bahwa kamu lain hari baru akan memberitahu dia, hari ini
tidak pernah akan datang. Jika kamu selalu pikir bahwa besok akan datang,
maka "besok" akan pergi begitu cepatnya hingga kamu baru sadar waktu telah
meninggalkanmu.
Sunday, September 25, 2005
Cinta Memang Menyakitkan
Mereka telah saling mengenal sejak bersekolah dan sejak menjadi sahabat
baik. Mereka berbagi semua dan apapun juga dan menghabiskan banyak waktu
bersama dalam dan setelah sekolah. Tetapi hubungan mereka tidak
berkembang namun hanyalah sebatas teman. Diane menyimpan rahasia,
kekagumannya dan cintanya kepada Jack. Dia memiliki alasan tersendiri
untuk
menyimpan hal itu sendiri.
TAKUT! Takut akan penolakan, takut jika Jack tidak merasakan hal yang
sama, takut kalau Jack tidak menerimanya sebagai temannya lagi, takut
kehilangan seseorang yang dia merasa nyaman bersamanya. Setidaknya jika
dia tetap menjaga perasaannya, dia mungkin masih bisa bersama Jack dan
dengan harapan, bahwa Jack lah yang akan mengatakan bagaimana
perasaannya
kepada Diane.
Waktu terus berjalan dan sekolah telah bubar. Jack dan Diane pergi ke
arah yang berlainan. Jack melanjutkan studinya ke keluar negeri,
sedangkan Diane mendapatkan pekerjaan. Mereka tetap saling berhubungan,
dengan surat, saling mengirimkan foto masing-masing dan saling
mengirimkan hadiah.
Diane merindukan Jack akan kembali. Dia telah memutuskan bahwa dia
memiliki kekuatan untuk mengatakan kepada Jack bagaimana perasaan
cintanya, jika Jack kembali.
Dan tiba-tiba, suratdari Jack terhenti. Diane menulis kepadanya, tetapi
tidak ada jawaban. Dimana dia? Apa yang terjadi? Banyak pertanyaan yang
ada di kepalanya.Dua tahun berlalu dan Diane tetap berharap bahwa Jack
akan kembali atau setidaknya mengiriminya surat. Dan lalu doanya
terkabul.
Dia menerima suratdari Jack, mengatakan...! " Diane, aku punya kejutan
untukmu...temui aku di bandara pukul 7 malam. Aku tidak kuat menunggu
untuk menemuimu lagi. Cinta dan cium Jack"
Diane berbunga-bunga. Cinta dan cium, berarti banyak bagi seorang wanita
yang belum merasakan cinta sebelumnya. Dia begitu gembira atas kata-kata
itu.
Ketika harinya telah tiba, DIane menunggu dengan cemas. Dia
memakai pakaian terbaiknya dan berusaha terlihat secantik mungkin. Dia
mencari Jack kesana kemari. Tetapi tidak dilihatnya Jack. Kemudian
datangseorang wanita dengan pakaian ketat berwarna biru yang seksi.
Dia begitu perhatian melihat Diane, "Hai! Aku Jacelyn, temannya
Jack.Kamu
Diane?" tanyanya. Diane menganggukkan kepala.
"Maaf, aku punya kabar buruk bagimu. Jack tidak akan datang. Dia tidak
akan datang lagi," kata wanita itu, sambil meletakkan tangannya di
pundaknya Diane.
Diane tidak dapat mempercayai hal yang dia dengar!!! Apa yangtelah
terjadi?? Diane bingung, dia amat sangat khawatir sekali dan wajahnya
menjadi pucat.
"Dimana Jack? Apa yang terjadi padanya??? Katakan padaku..." Diane
memohon kepada si wanita.
Si wanita melihat den an cermat ke Diane dan dia menepuk pundak Diane
dan
mengatakan
"ALAMAK DIANE... INI IKE JACK...APAKAH IKE TERLIHAT CANTIKSEKARANG?
AIH....AIH......YEY TIDAK DAPAT MENGENALI IKE LAGI YAH???
IHHH...SEBEL>DEH.....!!!"...
[jadi banci bookk..]
hehehhehehe.... hahahahhahaha.... huhuhuhu..... hohohoho.....
baik. Mereka berbagi semua dan apapun juga dan menghabiskan banyak waktu
bersama dalam dan setelah sekolah. Tetapi hubungan mereka tidak
berkembang namun hanyalah sebatas teman. Diane menyimpan rahasia,
kekagumannya dan cintanya kepada Jack. Dia memiliki alasan tersendiri
untuk
menyimpan hal itu sendiri.
TAKUT! Takut akan penolakan, takut jika Jack tidak merasakan hal yang
sama, takut kalau Jack tidak menerimanya sebagai temannya lagi, takut
kehilangan seseorang yang dia merasa nyaman bersamanya. Setidaknya jika
dia tetap menjaga perasaannya, dia mungkin masih bisa bersama Jack dan
dengan harapan, bahwa Jack lah yang akan mengatakan bagaimana
perasaannya
kepada Diane.
Waktu terus berjalan dan sekolah telah bubar. Jack dan Diane pergi ke
arah yang berlainan. Jack melanjutkan studinya ke keluar negeri,
sedangkan Diane mendapatkan pekerjaan. Mereka tetap saling berhubungan,
dengan surat, saling mengirimkan foto masing-masing dan saling
mengirimkan hadiah.
Diane merindukan Jack akan kembali. Dia telah memutuskan bahwa dia
memiliki kekuatan untuk mengatakan kepada Jack bagaimana perasaan
cintanya, jika Jack kembali.
Dan tiba-tiba, suratdari Jack terhenti. Diane menulis kepadanya, tetapi
tidak ada jawaban. Dimana dia? Apa yang terjadi? Banyak pertanyaan yang
ada di kepalanya.Dua tahun berlalu dan Diane tetap berharap bahwa Jack
akan kembali atau setidaknya mengiriminya surat. Dan lalu doanya
terkabul.
Dia menerima suratdari Jack, mengatakan...! " Diane, aku punya kejutan
untukmu...temui aku di bandara pukul 7 malam. Aku tidak kuat menunggu
untuk menemuimu lagi. Cinta dan cium Jack"
Diane berbunga-bunga. Cinta dan cium, berarti banyak bagi seorang wanita
yang belum merasakan cinta sebelumnya. Dia begitu gembira atas kata-kata
itu.
Ketika harinya telah tiba, DIane menunggu dengan cemas. Dia
memakai pakaian terbaiknya dan berusaha terlihat secantik mungkin. Dia
mencari Jack kesana kemari. Tetapi tidak dilihatnya Jack. Kemudian
datangseorang wanita dengan pakaian ketat berwarna biru yang seksi.
Dia begitu perhatian melihat Diane, "Hai! Aku Jacelyn, temannya
Jack.Kamu
Diane?" tanyanya. Diane menganggukkan kepala.
"Maaf, aku punya kabar buruk bagimu. Jack tidak akan datang. Dia tidak
akan datang lagi," kata wanita itu, sambil meletakkan tangannya di
pundaknya Diane.
Diane tidak dapat mempercayai hal yang dia dengar!!! Apa yangtelah
terjadi?? Diane bingung, dia amat sangat khawatir sekali dan wajahnya
menjadi pucat.
"Dimana Jack? Apa yang terjadi padanya??? Katakan padaku..." Diane
memohon kepada si wanita.
Si wanita melihat den an cermat ke Diane dan dia menepuk pundak Diane
dan
mengatakan
"ALAMAK DIANE... INI IKE JACK...APAKAH IKE TERLIHAT CANTIKSEKARANG?
AIH....AIH......YEY TIDAK DAPAT MENGENALI IKE LAGI YAH???
IHHH...SEBEL>DEH.....!!!"...
[jadi banci bookk..]
hehehhehehe.... hahahahhahaha.... huhuhuhu..... hohohoho.....
Subscribe to:
Comments (Atom)
